
Dalam upaya memperkuat edukasi kesehatan berbasis promotif dan preventif, Rumah Sakit Maranatha menggelar talk show bertajuk “Sehat di Tempat Kerja, Produktif Sepanjang Hari”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan literasi kesehatan masyarakat sekaligus mendorong keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan produktivitas kerja.

Talk show tersebut menyoroti pentingnya kesehatan di lingkungan kerja sebagai faktor utama dalam menjaga performa kerja serta mencegah berbagai penyakit akibat kerja, seperti gangguan muskuloskeletal, kelelahan kronis, hingga stres.
Edukasi yang diberikan mengacu pada prinsip evidence-based medicine, meliputi pengaturan ergonomi, manajemen stres, serta penerapan pola hidup sehat secara berkelanjutan.di komplek Taman Kopo 3,Blok H 1 no 40218 Kopo Soreang Rumah Sakit Maranatha (6/5/2026).

Dalam kesempatan yang sama, jajaran direksi menyampaikan bahwa transformasi menjadi Rumah Sakit Maranatha merupakan langkah strategis yang selaras dengan pengembangan institusi induk, yakni Universitas Kristen Maranatha, khususnya dalam penguatan peran sebagai rumah sakit pendidikan (teaching hospital).
Transformasi ini tidak hanya sebatas perubahan identitas, melainkan juga mencerminkan peningkatan mutu layanan berbasis keselamatan pasien (patient safety) sebagai prioritas utama.
Selain itu, rumah sakit juga terus mengembangkan layanan subspesialistik, terutama di bidang obstetri dan ginekologi (OBGYN), serta berkontribusi dalam mendukung program nasional seperti penurunan angka stunting dan angka kematian ibu dan bayi.
Sebagai rumah sakit pendidikan, RS Maranatha berperan sebagai pusat pembelajaran klinis bagi calon dokter dan dokter spesialis dengan standar akreditasi sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
Komitmen terhadap pelayanan tanpa diskriminasi juga menjadi perhatian utama. RS Maranatha melayani seluruh lapisan masyarakat, baik pasien umum, pengguna asuransi, maupun peserta BPJS Kesehatan.
Pendekatan pelayanan mengedepankan prinsip kesetaraan akses (equity in healthcare) dengan prioritas utama pada penanganan medis penyelamatan nyawa (life-saving first approach), serta didukung pendampingan administratif, termasuk dalam penyelesaian kendala BPJS.
Dalam meningkatkan kapasitas layanan, RS Maranatha melakukan ekspansi signifikan pada fasilitas rawat inap, dari sebelumnya 100 tempat tidur menjadi 250 tempat tidur. Penambahan gedung baru dengan kapasitas 150 tempat tidur diharapkan mampu menekan waktu tunggu pasien sekaligus meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, khususnya di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Dari sisi sumber daya manusia, RS Maranatha didukung oleh sekitar 150 tenaga perawat profesional dan 100 dokter umum serta spesialis. Proses rekrutmen dilakukan secara ketat berbasis kompetensi guna menjamin kualitas pelayanan tetap optimal.
Inovasi layanan juga diwujudkan melalui integrasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).
Pasien yang melahirkan kini dapat langsung memperoleh akta kelahiran bayi sebelum pulang, sementara pengurusan akta kematian juga difasilitasi secara cepat dan terintegrasi.
Langkah ini mencerminkan pendekatan patient-centered care yang tidak hanya fokus pada aspek klinis, tetapi juga kemudahan administratif.
Melalui kegiatan edukatif dan transformasi kelembagaan ini, RS Maranatha menegaskan posisinya sebagai institusi layanan kesehatan berbasis akademik dan penelitian yang mengedepankan keselamatan pasien, inklusivitas, serta dukungan terhadap kebijakan kesehatan nasional.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, RS Maranatha optimistis mampu menghadirkan layanan kesehatan yang optimal, berkualitas, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di Bandung dan sekitarnya.
Hilman R
