
JURNAL POLRI.MY.ID.INDRAMAYU. – 14.07.2026 Suasana haru menyelimuti Ruang Rawat Inap RS Mitra Plumbon, Widasari, saat Bupati Indramayu, Lucky Hakim, hadir secara langsung untuk menjenguk para korban selamat dari tragedi kecelakaan maut yang baru-baru ini mengguncang masyarakat. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kepedulian mendalam di tengah duka yang masih terasa begitu berat bagi keluarga korban.
Dari sekian banyak nyawa yang melayang, ada enam orang yang diberikan kesempatan kedua untuk hidup. Namun, fakta bahwa lima di antara mereka adalah anak-anak kecil menjadikan momen ini semakin memilukan. Tatapan polos mereka yang kini harus berhadapan dengan rasa sakit fisik dan trauma psikologis menjadi pemandangan yang sulit dilupakan.
Dalam kunjungannya, Bupati Lucky Hakim tidak datang dengan tangan kosong. Ia menyalurkan santunan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Indramayu sebagai bentuk bantuan awal untuk meringankan beban pengobatan dan pemulihan para korban. Namun, lebih dari materi, kehadiran sang bupati membawa pesan moral yang kuat: bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan ini.
Poin paling menyentuh hati terjadi ketika Bupati mengetahui adanya dua anak korban kecelakaan yang kini harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Status yatim piatu yang tiba-tiba melekat pada diri mereka di usia yang masih sangat muda menambah daftar kesedihan yang tak terukur.
Dengan ketulusan yang terlihat jelas, Bupati Lucky Hakim menawarkan diri untuk mengasuh kedua anak tersebut. “Biarkan mereka ikut dengan saya,” tawarnya dengan suara lirih namun tegas, menunjukkan keinginan kuat untuk memberikan masa depan dan kasih sayang pengganti bagi kedua anak malang itu.
Namun, di balik niat mulia tersebut, terselip kebijaksanaan seorang pemimpin yang memahami kondisi psikologis korban. Bupati meminta agar kedua anak tersebut tetap didampingi oleh keluarga besar mereka terlebih dahulu. Langkah ini diambil untuk memastikan mereka memiliki sistem pendukung emosional yang kuat selama masa-masa kritis pemulihan trauma. Keluarga diminta untuk menemani mereka melewati fase syok dan kesedihan sebelum keputusan jangka panjang diambil,
Sugi
