
JURNAL POLRI.MY.ID.CIREBON. – Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., secara resmi meresmikan Gedung Rufiah Ma’had Khadijah Li Tahfidzil Qur’an, Jumat (17/7/2027). Peresmian yang berlangsung khidmat di Perumahan Harjamulya, Jalan Brigjen Darsono Bypass, Cirebon, ini menandai hadirnya sebuah pusat pendidikan Islam baru yang diharapkan menjadi cetak biru generasi berakhlak mulia.
Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Cirebon, Drs. H. Imron, M.Ag., beserta jajaran tokoh masyarakat, ulama, dan ratusan tamu undangan. Kehadiran Ma’had Khadijah bukan sekadar penambahan jumlah institusi pendidikan, melainkan bagian dari strategi besar menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.
Kualitas Bangunan Cermin Keseriusan Pendidikan
Dalam sambutannya, Hidayat Nur Wahid memberikan apresiasi tinggi terhadap pengelolaan Ma’had Khadijah. Ia menilai kualitas fisik bangunan yang megah dan tertata rapi mencerminkan keseriusan para pengelola dalam menghadirkan lembaga pendidikan yang profesional.
“Ini adalah wujud nyata pelaksanaan amanat UUD 1945, khususnya Pasal 31 ayat 3. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama menyelenggarakan sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar politisi senior PKS tersebut.
Bagi Hidayat, pesantren memiliki peran strategis yang tidak tergantikan. Menurutnya, pesantren adalah institusi paling konkret dalam membentuk karakter, memperkokoh iman, serta menanamkan rasa hormat terhadap nilai-nilai agama dan kebangsaan. Oleh karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara holistik, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi terutama pada peningkatan kualitas pendidikan.
Cirebon: Lumbung Pesantren dan Moderasi Beragama
Menyoroti potensi lokal, Hidayat mengungkapkan bahwa Kabupaten Cirebon saat ini memiliki sekitar 833 pesantren. Angka ini menunjukkan bahwa ekosistem pendidikan Islam di daerah tersebut berkembang sangat pesat dan menjadi modal sosial yang kuat.
“Pesantren yang hadir hari ini jangan hanya menambah angka statistik. Lebih dari itu, ia harus meningkatkan kualitas pendidikan Islam sehingga mampu melahirkan generasi yang lebih baik, cerdas, dan berkarakter,” tegasnya.
Di tengah isu-isu sensitif terkait radikalisme, Hidayat juga meluruskan persepsi publik tentang pesantren. Ia menegaskan bahwa pesantren bukanlah lembaga eksklusif maupun sarang paham radikal. Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa pesantren telah berkontribusi besar bagi kemerdekaan dan persatuan Indonesia sejak masa perjuangan.
“Pesantren adalah garda terdepan moderasi beragama dan cinta tanah air. Mari kita dukung mereka agar terus menjadi benteng moral bangsa,” pungkasnya.
Peresmian ini diharapkan menjadi momentum baru bagi pendidikan tahfidz di Cirebon untuk menghasilkan hafizh dan hafizhah yang tidak hanya unggul dalam bacaan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang luas.
(Sugi MJP)
