
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. – Wajah balai desa di Kabupaten Kuningan bakal berubah drastis. Tidak lagi sekadar gedung administrasi yang sepi setelah jam kerja, balai desa akan bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, terang, dan ramah ekonomi. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan menggagas program penataan kawasan “Cipta Karya” dengan konsep taman kota mini (taman cilik) di lingkungan balai desa.
Kepala Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi untuk menghidupkan kembali interaksi sosial dan ekonomi warga di malam hari.
“Ini terobosan baru di bidang Cipta Karya. Visi saya sederhana: setiap balai desa harus memiliki ‘tambil’ atau taman kecil yang nyaman. Dulu, setelah Maghrib, area balai desa sering kali gelap dan sepi. Sekarang, kita hadirkan penerangan estetik dan tempat duduk yang layak,” ujar Putu saat ditemui, Jumat (7/8/2026).
Dari Estetika ke Ekonomi: Mendorong UMKM Desa
Konsep penataan ini dirancang multifungsi. Dengan penambahan lampu penerangan yang memadai dan tata ruang yang asri, area balai desa diharapkan menjadi magnet baru bagi warga untuk berkumpul. Lebih penting lagi, kehadiran ruang publik yang nyaman ini akan membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal.
Pedagang kaki lima, penjual jajanan malam, atau pengrajin tangan kini memiliki panggung baru yang resmi dan strategis untuk menjajakan produk mereka tanpa mengganggu ketertiban umum. Ini adalah bentuk dukungan konkret pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan berbasis komunitas.
Anggaran Penuh dari Pemkab, Bukan Beban Desa
Yang menarik dari program ini adalah skema pendanaannya. Putu menegaskan bahwa anggaran sebesar Rp300 juta per desa sepenuhnya dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kuningan.
“Tidak ada beban bagi desa. Anggaran desa nol rupiah untuk ini. Semua ditanggung oleh kabupaten karena ini adalah aset publik yang manfaatnya dirasakan bersama,” tegas Putu.
Langkah ini menunjukkan komitmen Pemkab Kuningan untuk meringankan beban keuangan desa sambil tetap mendorong pembangunan infrastruktur berkualitas.
Tahap Awal: Tiga Lokasi Percontohan
Meski awalnya Putu mengusulkan program ini untuk 25 desa secara serentak, proses seleksi ketat menghasilkan tiga lokasi prioritas yang telah disetujui untuk tahap pertama. Ketiga lokasi tersebut dipilih berdasarkan potensi keramaian dan kesiapan lahan:
- Alun-Alun Desa Padamulya, Kecamatan Maleber.
- Alun-Alun Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Maleber.
- Alun-Alun Kelurahan Cigugur.
Keberhasilan pilot project di ketiga lokasi ini akan menjadi tolok ukur untuk ekspansi program ke desa-desa lainnya di masa depan.
Dengan adanya taman-taman baru yang menyala di malam hari, Kabupaten Kuningan tidak hanya menambah keindahan visual, tetapi juga menciptakan ruang demokratis bagi warga untuk bersosialisasi dan berekonomi. Ini adalah bukti bahwa pembangunan infrastruktur bisa sejalan dengan pemberdayaan masyarakat.
(Sugi MJP)
