MAJALENGKA
Komisi IV DPRD Majalengka telah memanggil Kepala Puskesmas Bantarujeg setelah sempat menjadi sorotan publik dan viral di media.sosial pada awal November 2026 akibat adanya miskomunikasi antara petugas medis dan keluarga pasien.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Majalengka, Dhora Darojatin mengatakan Komisi IV DPRD Majalengka baru selesai bersilaturahmi atau berkunjung ke Puskesmas Sukahaji pada Jumat, (05/11/26).
“Ini salah satu follow up atau tidak lanjut untuk.mengetahui sejauh mana pelayanan kesehatan di Majalengka. Berawal dari kejadian
seorang pasien lansia bernama Ny. Masriah (61) tahun asal Desa Cipeundeuy dibawa ke puskesmas Bantarujeg pada malam.minggu dan hasil pemeriksaan mengarah pada suspek tuberkolosis (TBC). Pasien disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit karena keterbatasan fasilitas dan ruang inap yang penuh. Namun keluarga sempat menolak rujukan karena jarak ke rumah sakit yang jauh. Petugas mengira pasien bersama keluarga sudah pulang, namun ternyata pasien masih betada di teras puskesmas yang memicu narasi penelantaran di media sosial, ” paparnya.
Kita sebagai Komisi IV DPRD Majalengka mengingatkan kejadian pelayanan di Puskesmas Bantarujeg tersebut.
“Hasi Senin tanggal 1 November sudah kita undang dari jajaran Puskesmas Bantarujeg ke Komisi IV DPRD Majalengka, kita diskusi semuanya, sekitar dua jam lebih ya sampai mau waktu magrib ya. Kami mendapatkan informasi atas rangkaian kejadian tersebut, memang sampai saat ini kami meninta pada puskesmas dan dari Dinas Kesehatan untuk betul-betul memperbaiki apa yang memang miskomunikasi atau kurang dari pelayanan saat itu,” ujarnya.
Sambungnya, jadi memang dari keberadaan tenaga kesehatan baik dokter, perawat, dokter gigi di beberapa puskesmas di Kabupaten Majalengka masih kurang jadi akhirnya ini menjadi salah satu PR untuk bisa dilengkapi, untuk bisa memberikan pelayanan yang optimal, maksimal, Langkung Sae.
“Kondisi tersebut mudah mudahan menjadi pengingat bagi kita semua apa pelayanannya belum baik terus diperbaiki, sehingga betul betul memberikan pelayanan yang lebih optomal.lagi, kepada masyarakat ” paparnya.
Ditambahkannya, yang kedua kemudian komunikasi yang harus dibangun antara nakes ke masyarakat, masyarakat ke nakes.
Dan mungkin ke masyarakat nakes juga jangan sungkan bertanya kepada masyarakat. Interaksi tidak harus bertemu di puakesmas saja, bisa di pustu misalnya, jangan udah kondisi parah nasyarakat kita baru ke puskesmas, bisa juga datang ke posyandu.
“Harapannya hak ini akan meminimalisir kondisi pasien yang berat bisa ke yang lebih dekat dulu atau posyandu misalnya. Pesan khusus kepada nakes, dari Komisi IV meminta tenaga kesehatan memiliki kesabaran yang tinggi, keramahtamahan, karena banyaknya aturan atau SOP yang masyarakat tidak paham. Kemudian nakes harus memiliki kompetensi komunikasi yang berbeda kepada pasien atau keluarga pasien karena pemahaman masyarakat yang berbeda dan pengabdian harus diutamakan. Saat ini seluruh puskesnas sudah diminta fakta intregritas komitmen bersama layanan yang lebih baik, ” pungkasnya.
( Didin.Mh – RedPel )
