Lebih hina dari bangkai di tempat sampah apabila rajaputra tidak mampu menjaga warisan leluhur yang telah diwariskan turun-temurun oleh karuhun Sunda.
Anton Charliyan atau yang akrab disapa Abah Anton, terus konsisten menjaga serta melestarikan budaya asli leluhur Sunda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi.
Beliau mengingatkan bahwa generasi muda, khususnya generasi Gen Z, jangan sampai kehilangan jati diri karena terlalu mengikuti budaya asing tanpa menyaring nilai-nilai budaya sendiri. Kemajuan zaman boleh diikuti, namun akar budaya dan adat istiadat Sunda harus tetap dijaga sebagai identitas serta kehormatan urang Sunda.
Dengan semangat “hayu urang babarengan”, Abah Anton mengajak seluruh tokoh masyarakat, para pemuda, budayawan, dan masyarakat luas untuk bersama-sama melestarikan budaya asli leluhur Sunda. Mulai dari bahasa Sunda, adat istiadat, seni budaya, kaulinan barudak, pencak silat, karinding, wayang golek, hingga nilai silih asah, silih asih, silih asuh yang menjadi warisan luhur tatar Pasundan.
Tanah Parahyangan adalah tanah yang kaya budaya, kaya hasil bumi, dan kaya nilai kearifan lokal. Karena itu, sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga, merawat, dan meneruskan warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat dan tidak hilang ditelan zaman.
“Ulah nepi ka kabuyutan direbut ku batur.”
Mari jaga budaya Sunda, jaga marwah leluhur, dan jaga identitas bangsa demi generasi yang akan datang.
