
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. 26 Agustus 2026 – Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tengah bersiap menghadapi gelombang transformasi besar di sektor perikanan. Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan secara resmi mengumumkan kesiapan penuh untuk mengimplementasikan program strategis nasional: Budidaya Ikan Tematik.
Tidak main-main, target tahun 2026 ini menyasar 150 desa yang akan diubah menjadi pusat produksi protein mandiri. Program yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini bukan sekadar pembagian bibit ikan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi baru yang bertujuan menjadikan setiap desa sebagai “lumbung protein” yang mampu menopang ketahanan pangan lokal hingga nasional.
Dari Subsisten Menuju Komersial: Peluang Ekonomi Bagi Warga
Kepala Diskanak Kuningan, A. Taufik Rohman, menekankan bahwa program ini adalah jawaban atas kebutuhan akan kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat akar rumput.
“Ini bukan sekadar proyek jangka pendek. Kami melihat alokasi 150 desa ini sebagai peluang emas bagi Kuningan untuk memperluas basis produksi perikanan budidaya. Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas, membuka lapangan usaha baru, dan akhirnya mendongkrak pendapatan masyarakat,” ujar Taufik dalam konferensi pers di Kantor Diskanak Kuningan, Rabu (26/8/2026).
Taufik menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan sangat kolaboratif. Tidak ada lagi istilah “program dari atas ke bawah” yang kaku. Sebaliknya, Diskanak telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah kecamatan, Kepala UPTD Kannak, serta para penyuluh perikanan di lapangan.
“Koordinasi ini kunci utamanya. Kita harus satu suara mengenai kebijakan, mekanisme, dan pola pendampingan. Jika penyuluh, kecamatan, dan masyarakat bergerak bersama, efektivitas program akan maksimal,” tambahnya.
Teknologi Masa Depan: Bioflok dan Mini RAS
Yang membuat program ini berbeda dari budidaya konvensional adalah adopsi teknologi modern yang ramah lingkungan dan efisien. Diskanak Kuningan akan menerapkan dua sistem utama:
- Sistem Bioflok: Teknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah kotoran ikan menjadi pakan alami, sehingga mengurangi kebutuhan pemberian pakan pelet dan menjaga kualitas air tetap stabil.
- Mini RAS (Recirculating Aquaculture System): Sistem sirkulasi air tertutup yang memungkinkan budidaya intensif dengan penggunaan lahan yang sangat minim namun hasil panen yang tinggi.
Kedua teknologi ini akan difokuskan pada komoditas unggulan yang sudah akrab di tangan petani Kuningan, yaitu ikan lele dan nila.
“Dengan teknologi ini, kita bisa membudidayakan ikan di lahan sempit sekalipun, bahkan di halaman rumah. Airnya hemat, limbahnya minim, dan pertumbuhannya cepat. Ini solusi cerdas untuk daerah yang lahannya semakin terbatas,” jelas Taufik.
Dukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Budidaya Ikan Tematik ini juga memiliki peran strategis dalam mendukung agenda nasional, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan adanya 150 desa yang menjadi produsen ikan aktif, suplai protein hewani berkualitas untuk program MBG dapat terpenuhi secara lokal, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah, dan menekan biaya logistik.
“Desa-desa ini akan menjadi tulang punggung suplai protein untuk program MBG. Artinya, uang beredar di desa, ikan segar tersedia untuk anak-anak kita, dan petani sejahtera. Ini adalah win-win solution,” tegas Taufik.
Pendampingan Intensif: Kunci Keberlanjutan
Menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa sumber daya manusia yang mumpuni, Diskanak Kuningan berkomitmen menyediakan pendampingan penuh. Para penyuluh perikanan akan turun langsung ke 150 titik lokasi untuk memastikan transfer pengetahuan berjalan lancar.
Evaluasi berkala juga akan dilakukan untuk memantau perkembangan setiap kelompok pembudidaya. Taufik optimis bahwa sinergisitas antara pemerintah daerah, kecamatan, penyuluh, dan masyarakat akan menciptakan dampak berkelanjutan.
“Kami tidak akan meninggalkan mereka setelah bantuan diberikan. Pendampingan, koordinasi, dan evaluasi akan terus berlangsung. Kami yakin, dengan dukungan semua pihak, program ini akan benar-benar mengubah wajah perikanan Kuningan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” pungkas Taufik.
Dengan langkah berani ini, Kabupaten Kuningan berharap dapat menjadi model percontohan bagi daerah lain dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis komunitas yang modern, efisien, dan berkeadilan.
Sugi MJP

