
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. – Peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan tahun 2026 menjadi momen pembuktian kinerja pemerintahan yang berbuah manis. Di tengah perayaan tersebut, Kabupaten Kuningan resmi mencatatkan diri dalam peta prestasi nasional dan regional, mulai dari pengakuan budaya hingga tata kelola pemerintahan yang transparan.
Puncak kebanggaan masyarakat Kuningan terjadi ketika Pesta Dadung, sebuah tradisi unik yang sarat nilai filosofi, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Provinsi Jawa Barat. Pengakuan ini menegaskan bahwa Kuningan tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kaya akan identitas kultural.
Tata Kelola Bersih dan Reformasi Hukum
Di sisi administrasi, kepercayaan publik terhadap Pemkab Kuningan semakin kokoh. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kembali memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), menandakan integritas pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel.
Tidak berhenti di situ, komitmen Kuningan terhadap supremasi hukum juga menuai hasil. Indeks Reformasi Hukum daerah mencapai angka 88,4 atau masuk kategori A (Sangat Baik), mengalami kenaikan signifikan sebesar 7,2 poin dibanding tahun sebelumnya. Konsistensi pelayanan publik juga diapresiasi oleh Ombudsman RI dengan predikat “Kualitas Tinggi” senilai 78,38.
Gotong Royong Kunci Program Rumah Layak Huni
Salah satu capaian paling menyentuh adalah penghargaan nasional sebagai Terbaik II Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali untuk kategori Implementasi Program Tiga Juta Rumah dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat gotong royong yang hidup di tengah masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan sektor swasta berhasil menekan angka rumah tidak layak huni. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras kolektif tersebut, Pemkab Kuningan menerima bantuan tambahan sebanyak 250 unit bedah rumah.
Pesan Bupati: Kemajuan Harus Merata dan Berkeadilan
Meski deretan prestasi menghiasi laporan tahunan, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengingatkan agar euforia keberhasilan tidak menjebak pada rasa puas diri. Ia menekankan bahwa indikator kemajuan sejati bukan hanya terlihat dari gedung-gedung megah, melainkan dari rasa keadilan dan ketenteraman yang dirasakan warga di tingkat akar rumput.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya bangunan fisik, melainkan dari seberapa dalam rasa keadilan, ketenteraman, dan keberkahan terasa di rumah-rumah warga kita,” tegas Bupati Dian.
Ia mengakui bahwa masih ada wilayah yang membutuhkan peningkatan infrastruktur, masyarakat prasejahtera yang perlu uluran tangan, serta generasi muda yang memerlukan ruang kreativitas lebih luas. Oleh karena itu, momentum HUT ke-528 dijadikan ajang untuk memperkuat sinergi pentahelix: eksekutif, legislatif, yudikatif, ulama, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Rumah Besar Bersama
Dalam sambutannya, Bupati Dian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memandang Kuningan sebagai “rumah besar bersama” yang harus dijaga kebersihannya dan kemajuannya.
“Hanya dengan gotong royong dan kesatuan langkah, kita mampu menyongsong masa depan yang melesat tanpa pernah kehilangan akar kebudayaan kita,” ujarnya.
Apresiasi setinggi-tingginya disampaikan Bupati kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk putra-putri berprestasi di kancah nasional dan internasional, desa-desa mandiri, serta para pahlawan sehari-hari seperti petani, guru, pedagang, dan buruh. Ucapan terima kasih khusus juga dilayangkan kepada unsur Forkopimda atas menjaga kondusivitas daerah, serta panitia HUT ke-528 yang diketuai Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si., atas terselenggaranya rangkaian acara yang meriah dan bermakna.
Hari Jadi ke-528 ini menjadi pengingat penting: kemajuan Kuningan bukan sekadar tentang kecepatan bergerak, tetapi tentang kekuatan menjaga akar sejarah, nilai agama, dan kebersamaan masyarakat.
(Sugi MJP)

