
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. – Di tengah heningnya malam di kawasan Kebun Raya Kuningan, Desa Padabeunghar, Jumat (21/8/2026), sebuah pesan mendalam menggema. Bukan tentang anggaran atau infrastruktur, melainkan tentang jiwa pendidikan itu sendiri.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., tampil sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam kegiatan Retret dan Pembekalan Pendidikan Karakter bagi para kepala sekolah SMP se-Kabupaten Kuningan. Dalam forum yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan ini, Bupati Dian mengajak para pemimpin sekolah untuk melakukan refleksi ulang atas hakikat tugas mulia mereka.
Membangun Manusia, Bukan Tembok
Dengan nada tegas namun penuh perenungan, Bupati Dian melontarkan pertanyaan retoris yang menyentuh hati para peserta.
“Apa sebetulnya yang sedang kita bangun? Apakah kita sibuk membangun tembok-tembok kokoh, mengejar piala hingga rak prestasi penuh, atau sekadar memastikan ruang kelas terlihat megah?” tanya Dian.
Ia kemudian memberikan jawaban yang menjadi inti dari pidatonya: “Bagi saya, Bapak dan Ibu sedang membangun manusia, bukan sedang membangun fisik.”
Menurut Dian, bangunan bisa direnovasi, kurikulum bisa diubah, dan teknologi akan terus berkembang mengikuti zaman. Namun, proses membentuk karakter manusia memiliki dampak jangka panjang yang tak tergantikan. Ini menyangkut masa depan seorang anak, kestabilan keluarga, kualitas masyarakat, hingga arah peradaban daerah itu sendiri.
Pendidikan: Investasi, Bukan Biaya
Mengambil inspirasi dari keberhasilan Singapura, Bupati Dian menekankan bahwa keterbatasan sumber daya alam harus ditutupi dengan keunggulan sumber daya manusia. Ia menegaskan bahwa mendidik anak bukanlah pengeluaran biaya, melainkan investasi strategis terbesar bagi Kabupaten Kuningan.
“Membangun manusia itu merupakan sebuah investasi, bukan biaya,” tegasnya.
Untuk mencapai target besar tersebut, Dian meminta seluruh insan pendidikan berani keluar dari zona nyaman. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi bagaimana membuat siswa hadir secara fisik di sekolah, tetapi bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat mereka ingin hadir.
“Tugas kita hari ini bukan sekadar memastikan anak datang ke sekolah karena kewajiban, tapi memastikan anak itu memiliki keinginan kuat untuk belajar,” ungkapnya.
Kepala Sekolah sebagai Arsitek Budaya
Dalam pandangannya, setiap anak lahir dengan bakat dan keunggulan yang unik. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan tidak boleh kaku dan seragam. “Pendidikan tidak boleh seragam untuk anak yang tidak berseragam bakatnya,” kata Dian.
Di sinilah peran vital kepala sekolah muncul. Dian menyebut mereka sebagai agen perubahan sekaligus arsitek budaya sekolah. Budaya yang ditanamkan oleh kepala sekolah akan merembes ke seluruh ekosistem pendidikan.
“Jika kepala sekolah rajin membangun budaya disiplin, maka sekolah akan disiplin. Jika membangun budaya saling menghargai, maka guru dan murid akan hidup dalam harmoni penghargaan,” jelasnya.
Perubahan Kecil Menuju Kuningan Baru
Menutup sesi pembekalan, Bupati Dian menitipkan harapan agar para kepala sekolah pulang dengan semangat baru, solidaritas yang kuat, dan keberanian untuk bermimpi besar. Ia mengingatkan bahwa revolusi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari hal yang raksasa, melainkan dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
“Perubahan besar dimulai dari perubahan-perubahan kecil. Satu guru berubah, satu kelas berubah. Satu kelas berubah, satu sekolah berubah. Dan jika satu sekolah berubah, maka Kabupaten Kuningan akan berubah,” pungkas Dian dengan optimisme tinggi.
Sugi MJP

