
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN.CIGUGUR – Di tengah hingar-bingar perayaan Hari Anak Merdeka 2026 di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, sebuah pesan mendalam menggema. Bukan tentang bagaimana membuat semua anak menjadi sama, melainkan bagaimana merayakan perbedaan sebagai kekuatan terbesar bangsa.
Atip, dalam sambutannya, secara tegas membongkar mitos lama bahwa kesuksesan hanya milik mereka yang unggul di akademik konvensional. Ia mengajak para orang tua dan pendidik untuk berhenti “menyeragamkan” kemampuan anak, dan mulai berburu harta karun tersembunyi: kecerdasan unik yang dimiliki setiap individu.
“Kita sering terjebak pada standar tunggal. Padahal, lihatlah Rudi Hadisuwarno, ia menjadi legenda melalui seni tata rambut. Lihat Rudi Choirudin, ia menguasai dunia lewat kuliner. Dan tentu saja, kita memiliki Rudy B.J. Habibie yang mengubah wajah teknologi dan matematika Indonesia,” jelas Atip sambil mencontohkan ragam tokoh inspiratif.
Pesan itu sederhana namun revolusioner: Setiap anak punya jalur suksesnya sendiri.
“Jadi sekali lagi anak-anak, insyaallah Indonesia di tangan adik-adik semua yang memiliki kecerdasan yang berbeda. Kita ini memiliki keragaman dalam semuanya, termasuk kecerdasan,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Dari Cigugur untuk Indonesia Emas
Momen puncak terjadi ketika Atip mengajak seluruh anak menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, ratusan anak menjawab seruan tersebut: “Anak Indonesia Hebat!” dan “Indonesia Kuat!”
Teriakan itu bukan sekadar slogan. Itu adalah janji generasi muda Kuningan untuk tidak lagi merasa minder karena berbeda, melainkan bangga karena unik.
Peringatan Hari Anak Merdeka 2026 di Cigugur kali ini memang berbeda. Acara ini bertransformasi menjadi ruang belajar hidup tentang toleransi, persahabatan, dan pengenalan diri. Berbagai penampilan dari peserta membuktikan bahwa perbedaan bakat—mulai dari seni, olahraga, hingga sains—bukanlah sekat pemisah, melainkan mozaik indah yang saling melengkapi.
Kampung Rukun Sama Teman: Benih Kerukunan yang Tumbuh Akar
Lebih dari sekadar acara satu hari, semangat ini dilembagakan melalui Deklarasi Rukun Sama Teman dan inisiatif Kampung Rukun Sama Teman. Gerakan ini dirancang agar nilai-nilai kerukunan tidak berhenti di Paseban Tri Panca Tunggal, tetapi meresap ke ruang kelas, meja makan keluarga, hingga interaksi di lingkungan masyarakat.
Dari Cigugur, benih-benih toleransi ditanam sejak dini. Tujuannya jelas: agar keberagaman suku, agama, dan latar belakang sosial tidak lagi menjadi alasan untuk saling menjauh atau curiga. Sebaliknya, perbedaan itu dijadikan bahan bakar untuk tumbuh bersama, saling menguatkan, dan saling menghargai.
Dengan semangat baru ini, Kuningan tidak hanya ingin mencetak anak yang pintar, tetapi anak yang berkarakter, inklusif, dan percaya diri. Karena ketika setiap anak diberi ruang untuk bersinar sesuai cahayanya sendiri, maka Kuningan akan melesat, dan Indonesia akan semakin kuat.
Anak Kuningan Hebat, Anak Indonesia Kuat, Kuningan Melesat!
(Sugi MJP)

