
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. – Potensi wisata Waduk Darma di Kabupaten Kuningan dinilai kian terbuka lebar. Namun, kunci utamanya bukan sekadar membangun infrastruktur secara masif, melainkan menyesuaikan pengembangan amenitas seperti homestay dengan pertumbuhan jumlah wisatawan yang nyata.
Hal ini ditegaskan oleh Herman dalam acara BUMDes Festival Jawa Barat 2026 yang digelar di kawasan tersebut. Ia mengingatkan agar pembangunan tidak mendahului permintaan pasar.
“Jangan sampai kita membuat banyak homestay tetapi tidak ada pengunjungnya. Prinsipnya sederhana: jika banyak pengunjung, insyaallah homestay akan berkembang dengan sendirinya mengikuti kebutuhan,” ujar Herman.
Substansi Lebih Penting daripada Seremonial
Selain aspek akomodasi, Herman menekankan tiga pilar penting dalam pengelolaan kawasan wisata: kebersihan, keindahan, dan ketertiban. Ia juga menyoroti urgensi penguatan atraksi melalui seni dan budaya lokal Kuningan sebagai daya tarik utama.
Menurutnya, keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) harus berorientasi pada hasil yang substantif, bukan sekadar formalitas acara.
“Produk BUMDes bukan hanya tentang mengadakan acara seremonial. Yang paling penting adalah keberlanjutannya. Apa dampak nyatanya setelah acara selesai?” tegasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Herman mendorong sinergi lintas sektor yang kuat, mulai dari BUMDes, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga jajaran pemerintah dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa.
Literasi Keuangan: Kunci Ketahanan Ekonomi Keluarga
Dalam kesempatan yang sama, Herman juga menyoroti aspek fundamental lain, yaitu literasi keuangan masyarakat. Ia menilai edukasi pengelolaan keuangan perlu diperkuat hingga ke unit terkecil, yakni keluarga.
Masyarakat, menurutnya, harus dibekali kemampuan untuk mengatur pendapatan, mengendalikan pengeluaran, dan memilih sumber pembiayaan yang sehat. Kolaborasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, hingga aparat desa dinilai krusial dalam memberikan edukasi langsung kepada warga.
“Rumusnya sebenarnya sederhana: tingkatkan pendapatan, minimalkan pengeluaran. Jika dua hal ini bisa dijalankan, dijamin ekonomi masyarakat akan kuat,” katanya.
Herman turut mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan yang mencapai 6,98 persen pada tahun 2025. Angka ini menjadi modal penting untuk menjaga momentum, dengan target menembus angka 7 persen di masa mendatang. Penguatan ekonomi desa melalui BUMDes disebut sebagai salah satu penggerak utama dalam pencapaian target tersebut.
Membangun “Superteam” untuk Ekonomi Desa
BUMDes Festival Jawa Barat 2026 digagas oleh Forum BUMDes Merah Putih (FBMP) DPD Kabupaten Kuningan bersama Jaringan BUMDes Nasional (Jarsanas). Acara ini dimeriahkan dengan sekitar 50 stan BUMDes dan UMKM, talkshow, jalan santai, pesta kuliner, serta atraksi unik “Festival Ngecrok Tutut Sajagat”.
Christian Kent, Ketua Panitia sekaligus Direktur Jarsanas, menyatakan bahwa festival ini dirancang bukan sebagai kegiatan sekali jalan.
“Kita harus mengubah pola pikir. Kita bukan lagi bekerja sebagai ‘Superman’ yang berjalan sendiri, tetapi sebagai ‘Superteam’. Seluruh elemen, dari pemerintah pusat hingga daerah, harus bergandengan tangan memajukan Indonesia dari desa,” ungkap Christian.
Ia berharap festival ini menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Melalui ajang ini, BUMDes dari berbagai daerah di Jawa Barat dapat bertukar pengalaman, memperluas jejaring, dan membuka peluang kerja sama dengan pemerintah, perbankan, serta dunia usaha.
Kreativitas Mengubah Biasa Menjadi Istimewa
Salah satu simbol keberhasilan kreativitas lokal yang ditampilkan dalam festival ini adalah Tutut (keong sawah) dari Waduk Darma. Sesi “Ngecrok Tutut” menunjukkan bagaimana komoditas yang tampak biasa dapat bernilai tinggi ketika dikemas dengan kreativitas, dijadikan atraksi wisata, dan dipertemukan dengan pasar yang tepat.
“Potensi desa tidak boleh berhenti sebagai kekayaan lokal saja. Produk dan kreativitas masyarakat harus mampu ‘naik kelas’, memiliki pasar yang lebih luas, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” tutup Christian.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan strategis, termasuk perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemkab Kuningan, Kementerian Desa dan PDT, OJK, Bank Indonesia, jajaran Forkopimda, serta ratusan pengelola BUMDes dan pelaku UMKM dari seluruh Jawa Barat.
(Sugi MJP)

