KUNINGAN – Langit di depan Pendopo Kabupaten Kuningan tampak kelabu, bukan karena hujan, melainkan oleh kepulan asap dan tensi tinggi yang dibawa oleh ratusan massa aksi, Senin (5/10/2026).
Jalan Siliwangi yang biasanya ramai oleh lalu lintas kendaraan, hari ini lumpuh total. Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat tumpah ruah, menyuarakan satu suara lantang: Selamatkan Gunung Ciremai dari Tambang Geothermal.
Aksi yang diinisiasi oleh koalisi besar—meliputi BEM Universitas Kuningan (Uniku), BEM Unisa, UMK, GMNI, PMII, hingga warga lokal dan perwakilan dari Cirebon—menandakan bahwa isu lingkungan di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat ini bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan masalah “hidup dan mati” bagi ekosistem dan masyarakat sekitar.
Ancaman Ekologis di “Menara Air” Jawa Barat
Ketua BEM Uniku, Fillah Ahmad Abadi, menjadi salah satu orator yang paling vokal. Dengan tegas ia mengingatkan pemerintah bahwa Gunung Ciremai bukan sekadar objek wisata atau ladang energi, melainkan “menara air” yang menopang kehidupan jutaan orang di Kuningan, Cirebon, dan Majalengka.
“Pengembangan energi terbarukan tidak boleh, dan tidak seharusnya, mengorbankan keselamatan lingkungan. Kami khawatir, eksploitasi geothermal akan melukai ekosistem Ciremai yang sudah rapuh,” tegas Fillah di tengah teriakan ‘Tolak!’ dari massa.
Ia menambahkan, penolakan ini bukan anti-kemajuan, melainkan bentuk perlawanan terhadap keserakahan yang mengancam masa depan. “Penolakan ini murni aspirasi lintas elemen. Kami menolak alam dieksploitasi yang dampaknya akan dirasakan oleh anak cucu kita. Air akan kering, tanah akan longsor, dan Ciremai akan mati,” tambahnya.
Pagar Besi dan Ketidakhadiran Orang Nomor Satu
Situasi sempat memanas menjelang siang. Kekecewaan massa memuncak ketika (diketahui) bahwa Bupati Kuningan tidak hadir menemui mereka. Ketidakhadiran pemimpin daerah di tengah gelombang protes ini dianggap sebagai bentuk arogansi dan pengabaian terhadap jeritan rakyatnya.
“Mana Bupati?! Keluar dan dengar suara kami!” teriak para orator yang disahut oleh ratusan massa lainnya.
Emosi massa tak terbendung ketika mereka mencoba menembus barikade ketat aparat kepolisian di pintu utama Pendopo. Terjadi aksi saling dorong. Perisai polisi beradu dengan dorongan massa yang ingin memaksa masuk ke area kantor pemerintahan. Situasi tegang selama beberapa menit sebelum aparat berhasil mengamankan posisi dan meredam emosi massa dengan pendekatan persuasif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kuningan maupun Polresta Kuningan terkait insiden dorong-dorongan tersebut.
Teguh Bertahan
Meski sempat ricuh dan tidak menemui pimpinan daerah, massa tidak membubarkan diri. Mereka tetap bertahan di area Jalan Siliwangi, melanjutkan orasi dan menyanyikan lagu-lagu perlawanan, sembari menunggu jaminan bahwa aspirasi mereka akan didengar, bukan hanya dicatat sebagai arsip laporan pengaduan.
Bagi masyarakat Kuningan dan Cirebon, hari ini adalah peringatan keras: Ciremai bukan untuk dijual.
(Sugi MJP)
