PANIPAHAN, 8 Agustus 2026 – MJP – Pemandangan matahari terbenam yang memukau di atas Selat Malaka menjadi latar belakang diskusi strategis bernuansa santai namun berbobot. Pada Sabtu (8/8), jajaran Pengurus dan Pengawas Koperasi Produsen Pangan Hulu Hilir Bersatu menggelar sosialisasi program Perhutanan Sosial (PSKL) berbasis Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Ketahanan Pangan bersama para tokoh masyarakat di sebuah cafe terapung di Kota Panipahan, Pesisir Labuhan batu dan Rokan hilir
Pertemuan unik ini menggabungkan keindahan alam pesisir dengan substansi kebijakan lingkungan tingkat nasional. Para tokoh masyarakat, yang selama ini menjadi penjaga tradisi dan stabilitas sosial di wilayah pesisir dan hilir, diajak untuk memahami bagaimana restorasi gambut di hulu (Panai Tengah & Hilir) berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ekonomi mereka di hilir.
Menghubungkan Hutan, Karbon, dan Piring Nasi
Ketua Koperasi, Ilyas Simatupang, dalam paparannya menekankan bahwa PSKL bukan sekadar soal izin lahan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi baru.
“Kita sering melihat hutan dan laut sebagai dua hal terpisah. Padahal, kesehatan gambut di Panai menentukan kualitas air dan iklim di pesisir seperti Panipahan ini. Melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK), setiap pohon sagu dan aren yang kita tanam di hulu memiliki nilai uang yang bisa kembali ke masyarakat. Ini adalah bentuk ketahanan pangan jangka panjang,” jelas Ilyas di tengah deburan ombak Selat Malaka.
Para tokoh masyarakat tampak antusias menyimak penjelasan mengenai mekanisme perdagangan karbon dan potensi pasar ekspor untuk produk paludikultur. Mereka menyadari bahwa dukungan mereka sangat krusial untuk menciptakan stabilitas sosial bagi ribuan anggota koperasi di daerah aliran sungai.
Strategi “Soft Power” di Tengah Keindahan Alam
Pemilihan lokasi di cafe terapung sengaja dilakukan untuk membangun pendekatan yang lebih cair dan inklusif. Berbeda dengan rapat formal di ruangan tertutup, suasana terbuka di tepi laut memudahkan para tokoh untuk menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran mereka secara jujur.
Salah satu tokoh masyarakat setempat,bapak Rustam pohan menyatakan apresiasinya. “Pendekatan seperti ini membuat kami merasa dihargai. Kami tidak hanya diberi instruksi, tapi diajak berdiskusi sambil menikmati anugerah alam. Kami siap mendukung program ini karena melihat kejelasan manfaatnya bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Menjembatani Hulu dan Hilir
Sosialisasi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara wilayah hulu (lahan gambut) dan hilir (pesisir). Koperasi berkomitmen bahwa hasil panen dari program PSKL akan diproses dan dipasarkan melalui jaringan yang melibatkan pelaku usaha di pesisir, sehingga roda ekonomi berputar merata dari Panai hingga Panipahan.
Dengan berakhirnya pertemuan di bawah langit senja Panipahan, Koperasi Produsen Pangan Hulu Hilir Bersatu semakin mantap melangkah. Kombinasi antara strategi teknis NEK, komitmen ketahanan pangan, dan pendekatan humanis kepada tokoh kunci menjadi modal sosial terbesar koperasi dalam menghadapi tantangan verifikasi dan pengembangan usaha ke depan.
Sumber : humas koperasi PPHHB
Tim MJP
