
JURNAL POLRI.MY.ID.BOGOR. – Pukul 07.13 WIB, Kamis (13/8/2026). Matahari belum sepenuhnya naik, namun hawa panas di Kampung Sukarakyat, Desa Sadengkolot, Kecamatan Leuwisadeng, sudah terasa menyengat kulit. Bukan hanya karena musim kemarau yang kian panjang, tetapi karena kepanikan yang perlahan merayap di hati ratusan warga yang mengantre dengan jeriken kosong di tangan.
Di tengah debu jalanan yang beterbangan, sebuah truk tangki berwarna pudar akhirnya tiba. Bagi warga di sini, kedatangan truk itu bukan sekadar pengiriman logistik, melainkan “penyelamat” dari dahaga yang mencekam.
Antrean Panjang dan Wajah-Wajah Lelah
Suasana di lokasi pembagian air jauh dari kata tertib yang nyaman. Itu adalah antrean penuh kepasrahan. Ibu-ibu paruh baya dengan kain peluh di dahi, bapak-bapak tua yang langkahnya mulai berat, hingga anak-anak kecil yang bingung melihat orang tuanya berebutan membawa wadah seadanya. Tidak ada keran pribadi yang bisa dibuka seenaknya. Semua bergantung pada kebaikan hati seorang pengusaha air lokal, Bapak Udin, yang rela mengerahkan armada tangkinya di tengah krisis pasokan daerah.
“Biasanya sumur di belakang rumah masih keluar air meski sedikit. Sekarang? Kering kerontang. Hanya bunyi ‘ngos-ngosan’ pompa yang kami dengar,” keluh salah satu warga sambil memegangi jeriken plastik biru yang retak di bagian bawah.
Bapak RW Aman bersama Babinsa setempat tampak sigap mengatur barisan. Namun, di balik ketegasan mereka menjaga ketertiban, tersirat kelelahan yang sama. Mereka adalah garda terdepan yang harus menghadapi amarah dan keputusasaan warganya setiap hari, sementara solusi permanen dari atas tak kunjung datang.
Ketika Alam Dihukum oleh Ambisi Pembangunan
Kemarau memang fenomena alam. Namun, kekeringan parah yang melanda Kp. Sukarakyat tahun ini memiliki aroma yang berbeda. Diduga kuat, bencana ini bukan semata takdir cuaca, melainkan buah dari alih fungsi lahan basah yang masif di wilayah sekitar.
Hutan-hutan kecil dan area resapan air yang dulu menjadi paru-paru kampung, kini telah berubah menjadi beton-beton pembangunan. Mata air yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan warga, kini mati suri. Sumur-sumur galian yang dulunya jernih, kini hanya menyisakan lumpur pecah-pecah.
Warga bertanya: Ke mana perginya air? Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih panas daripada terik matahari siang itu.
Pemerintah di Mana?
Aksi distribusi air oleh pihak swasta seperti Bapak Udin patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Namun, fakta pahitnya adalah: ini seharusnya bukan tugas warga atau pengusaha perorangan.
Penyediaan air bersih adalah hak dasar warga negara dan kewajiban mutlak pemerintah. Fakta bahwa di tahun 2026, warga Bogor masih harus berbaris di bawah terik pagi untuk mendapatkan air bersih dari truk tangki adalah tamparan keras bagi kinerja pemda setempat.
Di mana program mitigasi kekeringan jangka panjang? Di mana penegakan hukum terhadap alih fungsi lahan ilegal yang merusak ekosistem air? Bantuan sesaat berupa truk tangki mungkin bisa mematikan dahaga hari ini, tetapi tidak akan pernah menyembuhkan luka ekologis yang telah dibuat.
Warga Sukarakyat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya meminta hak paling dasar mereka: air untuk minum, mandi, dan memasak. Sementara mereka menunggu tetesan air dari truk tangki, mereka juga menunggu jawaban dari pemerintah: kapan krisis ini benar-benar selesai, bukan hanya diredam sementara?
Hingga saat itu tiba, warga Sukarakyat akan terus mengantre. Dengan harapan yang semakin tipis, dan keyakinan bahwa air adalah hak, bukan belas kasihan.
Sugi MJP

