
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN.– Saat asap masih mengepul dari kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., memilih untuk tidak duduk nyaman di belakang meja. Pada Rabu (9/9/2026), orang nomor satu di Kabupaten Kuningan ini turun langsung ke medan tempur, menyusuri jalur terjal menuju titik api untuk memastikan setiap upaya pemadaman berjalan optimal.
Kebakaran yang pertama kali terdeteksi pada Senin (7/9/2026) di Blok Cileutik telah membakar sekitar 40 hektare kawasan hutan. Namun, bagi Bupati Dian, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan panggilan tugas untuk melindungi aset konservasi terbesar di wilayahnya.
Kepemimpinan yang Hadir di Lapangan
Kehadiran Bupati Dian di lokasi bukan sekadar simbolis. Ia memantau secara detail kondisi lapangan, berdiskusi dengan para komandan lapangan, dan memberikan arahan strategis agar api tidak meluas.

“Sekarang berdasarkan laporan, sudah sekitar kurang lebih 40 hektare area yang terbakar. Namun, kabar baiknya, sampai perkembangan hari ini, api sudah mulai padam di beberapa titik,” ujar Bupati Dian di tengah kepulan asap, menunjukkan optimisme atas kerja keras tim gabungan.
Meski demikian, Bupati Dian tetap waspada. Ia menekankan bahwa pemadaman di area hutan konservasi memerlukan ketelitian ekstra. Asap yang menipis bukan berarti bahaya telah berlalu.
“Persoalan di hutan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari padamnya asap. Saya melihat tadi ada beberapa titik yang belum benar-benar padam sepenuhnya. Kita harus melakukan pendinginan dan pemantauan ketat agar api tidak menyala kembali,” tegasnya.
Menghadapi Tantangan Alam dengan Strategi Solid
Penanganan karhutla kali ini dihadapi dengan tantangan alam yang berat. Angin kencang yang menerpa Kuningan dalam beberapa hari terakhir menjadi musuh utama, berpotensi membuat api “melompat” melewati sekat bakar yang telah dibuat petugas.
Selain itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, mengakui sulitnya akses menuju titik api yang terjal, berbatu, serta minimnya sumber air di ketinggian. Vegetasi kering akibat kemarau panjang juga mempercepat laju api.

Namun, keterbatasan fisik tidak menyurutkan semangat para pahlawan lingkungan ini. Personel gabungan dari BPBD, Balai TNGC, TNI (Yonif), Polri, Relawan, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) bekerja bahu membahu siang dan malam. Mereka melakukan pemadaman manual dengan peralatan seadanya, menunjukkan dedikasi tinggi demi menyelamatkan paru-paru dunia.
Apresiasi untuk Kolaborasi Tanpa Batas
Bupati Dian menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen yang terlibat. Ia memandang kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi vertikal (TNI/Polri/TNGC), dan masyarakat sipil sebagai kunci keberhasilan pengendalian kebakaran.
“Saya mengapresiasi BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Polres, Kodim, Yonif, jajaran Balai TNGC, serta seluruh relawan. Kerja keras Anda semua siang dan malam adalah bentuk nyata cinta kita terhadap Kuningan,” kata Bupati Dian.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Kuningan untuk bersatu dalam doa dan dukungan moral.
“Mohon doa dari seluruh warga masyarakat Kuningan. Mudah-mudahan dengan ikhtiar maksimal dari tim di lapangan dan doa dari kita semua, api ini segera dapat dipadamkan total dan tidak kembali meluas,” harapnya.
Dengan kehadiran pemimpin yang responsif dan tim yang solid, Kabupaten Kuningan membuktikan kesiapannya dalam menghadapi tantangan bencana alam, menjaga kelestarian Gunung Ciremai sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.
(Sugi MJP)
.

