KUNINGAN – Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) memegang kunci strategis dalam peta pembinaan atlet daerah. Mereka dianggap sebagai “gerbang pertama” yang paling jeli dalam mendeteksi potensi fisik dan bakat terpendam peserta didik.
Hal ini ditegaskan oleh Bupati Kuningan saat membuka Coaching Clinic Guru Olahraga SD dan SMP se-Kabupaten Kuningan. Bupati menekankan bahwa guru PJOK tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga berperan sebagai scout (pencari bakat) awal yang dapat mengarahkan siswa ke cabang olahraga yang paling sesuai dengan kemampuan mereka.
“Guru PJOK memiliki peran sangat vital. Dari merekalah kita bisa mengetahui anak ini punya potensi di mana, lalu diarahkan ke pembinaan yang tepat. Kenali bakatnya, jangan sampai terlewat,” ujar Bupati.
Mengemas Sepak Takraw Agar “Keren” di Mata Gen Z
Dalam kesempatan tersebut, Bupati secara khusus menyoroti pengembangan cabang olahraga sepak takraw melalui Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI). Ia mendorong PSTI untuk mengubah pendekatan pembinaan agar lebih relevan dan menarik bagi generasi muda.
Menurut Bupati, sepak takraw memiliki nilai jual tinggi karena sifatnya yang atraktif dan penuh seni. Gerakan menendang bola hingga 180 derajat sambil melompat membutuhkan keberanian dan teknik tinggi, yang jika dikemas dengan baik, akan sangat memikat minat remaja.
“Sepak takraw itu olahraga yang keren dan atraktif. Manfaatkan media sosial untuk menampilkan teknik-teknik spektakuler dan sosok atlet profesional. Buatlah generasi muda merasa bahwa belajar sepak takraw itu bangga dan menyenangkan,” katanya.
Ia juga meminta PSTI menyusun program pembinaan yang terjangkau namun berkualitas, serta rutin menggelar pertandingan eksibisi untuk meningkatkan popularitas olahraga ini.
Membangun Ekosistem: Sekolah, Klub, dan Organisasi
Lebih jauh, Bupati menginginkan terbentuknya ekosistem sepak takraw yang terintegrasi dan saling mendukung. Ia merumuskan tiga pilar utama dalam ekosistem ini:
- Sekolah: Sebagai tempat pencarian bibit unggul (talent scouting).
- Klub: Sebagai wadah pembinaan teknis dan mental.
- PSTI: Sebagai penggerak utama dan penggagas kompetisi.
“Ketiga elemen ini harus saling terkait. Jangan lagi pencarian bakat dilakukan secara sporadis. Dengan ekosistem yang jelas, jalur atlet dari sekolah ke prestasi nasional akan lebih terarah,” jelasnya.
Olahraga: Pembentuk Karakter, Bukan Sekadar Juara
Di balik target prestasi, Bupati mengingatkan bahwa esensi pembinaan olahraga adalah pembentukan karakter manusia. Olahraga menjadi sarana efektif untuk menanamkan kedisiplinan, sportivitas, kerja sama tim, dan ketangguhan mental.
“Tujuan akhir bukan hanya menciptakan juara, tapi membentuk manusia berkarakter. Bagaimana mereka bangkit saat kalah, bagaimana mereka disiplin, dan bagaimana mereka bekerja sama. Nilai-nilai inilah yang penting untuk kehidupan mereka kelak,” ungkap Bupati.
Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Kuningan akan terus hadir mendukung pengembangan olahraga sebagai variabel penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Acara ditutup dengan harapan agar kepengurusan PSTI periode baru dapat membawa energi segar, sehingga prestasi sepak takraw Kuningan dapat kembali bersinar di tingkat provinsi maupun nasional.
(Sugi MJP)
