KUNINGAN, 10 Oktober 2026– Angin pagi di Kuningan hari ini tidak hanya membawa kesejukan, tetapi juga aroma tanah basah bercampur wangi bulir padi yang mulai menguning. Sabtu, 10 Oktober 2026, hamparan sawah di wilayah ini seolah berubah menjadi lautan emas yang memanjakan mata.
Tahun ini, alam seolah tersenyum lebar pada para petani Kuningan. Rumpun-rumpun padi tumbuh begitu meruah, menunduk berat membawa bulir-bulir berisi yang padat. Tidak ada jengkal tanah yang terbuang sia-sia; setiap petak sawah adalah kanvas emas yang menjanjikan kesejahteraan dan rasa syukur yang tak terhingga.
Namun, di tengah gempuran era pertanian modern 2026, di mana mesin combine harvester meraung-raung di berbagai sudut desa, ada satu sosok yang memilih menjaga irama alam dengan caranya sendiri: Sugi .
Irama Sabit dan Penghormatan pada Tanah
Di tengah hamparan padi yang meruah itu, Sugi, seorang petani yang kulitnya telah ditempa matahari dan angin, sibuk dengan sabit di tangannya. Dengan cekatan, ia memanen padi secara manual.
Bagi Sugi, panen manual bukan sekadar soal ketertinggalan zaman, melainkan sebuah filosofi dan bentuk penghormatan pada tanah yang telah memberi makan.
Simfoni Musim Panen
Suara srek-srek sabit yang memotong batang padi berpadu dengan desau angin dan canda tawa para petani lain yang turut memanen. Ini adalah simfoni musim panen yang jarang didengar di kota-kota besar.
Keringat yang menetes dari pelipis Sugi ke tanah seolah menjadi air suci yang menyuburkan harapan. Setiap ikatan padi yang ia buat dengan rapi adalah bukti kerja keras, ketelatenan, dan cinta pada profesi yang diwariskan oleh leluhurnya. Di tangan Sugi, padi yang meruah itu tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi menjadi karya seni dari keringat dan doa.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Pemandangan Sugi yang memanen secara manual di tengah luasnya lahan Kuningan yang sedang panen raya menjadi sebuah potret kontras yang indah. Ia adalah penjaga tradisi, pengingat bagi kita semua bahwa di balik butiran nasi yang kita makan, ada tangan-tangan kapalan yang memeluk bumi dengan penuh kasih.
Di Kuningan, Oktober 2026 bukan hanya tentang seberapa banyak ton gabah yang dihasilkan. Ini adalah tentang Sugi, dan ribuan petani lainnya, yang membuktikan bahwa di tengah deru modernisasi, cinta pada tradisi dan tanah air tetap tumbuh meruah—seindah padi yang menunduk matang.
Sugi MJP
