KUNINGAN, 17 September 2026 – Citra kepolisian di mata masyarakat kini bertransformasi. Tidak lagi hanya dikenal sebagai sosok tegas di balik seragam dinas, Polres Kuningan di bawah komando AKBP Bellen Anggara Pratama hadir sebagai “tetangga” yang peduli, sigap, dan solutif. Melalui pendekatan humanis yang konsisten, Kapolda Kuningan berhasil membuktikan bahwa ketegasan hukum dan kehangatan sosial dapat berjalan beriringan demi kenyamanan warga.
Visi besar ini disampaikan langsung oleh AKBP Bellen Anggara Pratama pada Rabu (16/9/2026), di mana ia menekankan pentingnya perubahan pola pelayanan. Bagi beliau, polisi tidak boleh hanya muncul ketika ada kejahatan atau pelanggaran, tetapi harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjawab berbagai persoalan sehari-hari melalui edukasi, bantuan, dan komunikasi yang baik.
Humanis Namun Tetap Tegas: Keseimbangan yang Sulit Dicapai
Salah satu tantangan terbesar dalam reformasi birokrasi kepolisian adalah menyeimbangkan antara ketegasan penegakan hukum dengan pendekatan persuasif. AKBP Bellen berhasil menemukan formula tersebut.
“Kami tidak mengesampingkan ketegasan. Aturan tetaplah aturan. Namun, cara kami menegakkannya berbeda. Kami mendahulukan edukasi dan pemahaman,” ujar AKBP Bellen.
Contoh nyata dari filosofi ini terlihat dalam operasi penertiban knalpot brong (bising). Alih-alih hanya melakukan tilang massal yang sering kali menimbulkan gesekan, jajaran Polres Kuningan melakukan pendekatan masif berupa sosialisasi. Polisi turun ke jalan bukan hanya untuk menangkap pelanggar, tetapi untuk menjelaskan dampak negatif kebisingan terhadap kesehatan lingkungan dan kenyamanan tetangga. Hasilnya, kesadaran masyarakat meningkat, dan penertiban berjalan lebih kondusif.
Hadir di Saat Sulit: Solusi Nyata bagi Masyarakat
Kepedulian Kapolres Bellen tidak berhenti pada urusan lalu lintas. Ia memahami bahwa kehadiran polisi paling dirasakan saat masyarakat sedang menghadapi kesulitan.
Di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kuningan, Polres Kuningan bergerak cepat mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang mengalami krisis. Langkah ini bukan sekadar bantuan simbolis, melainkan respons nyata atas keluhan warga yang kesulitan mengakses air layak pakai.
“Polisi harus hadir memberi solusi. Jika warga kesulitan air, kita bantu. Jika warga bingung soal aturan, kita edukasi. Itu esensi dari police community relation yang sebenarnya,” tegas AKBP Bellen.
Selain itu, program ketahanan pangan juga terus digalakkan. Dengan memanfaatkan lahan tidur di lingkungan polres dan melibatkan bhabinkamtibmas, Polres Kuningan turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat kurang mampu.
Membangun Kepercayaan Melalui Transparansi dan Edukasi
Perubahan paradigma ini mendapat respons positif dari berbagai lapisan masyarakat. Warga merasa lebih aman dan dihargai karena polisi mendengarkan keluh kesah mereka, bukan hanya menunggu laporan kriminalitas.
Program-program seperti sosialisasi tertib berlalu lintas di sekolah-sekolah, hingga interaksi langsung di media sosial, menunjukkan bahwa Polres Kuningan di era AKBP Bellen sangat terbuka dan adaptif terhadap teknologi serta kebutuhan generasi muda.
Prestasi yang Membanggakan
Langkah-langkah inovatif yang diambil oleh AKBP Bellen Anggara Pratama menjadikan Polres Kuningan sebagai salah satu contoh terbaik implementasi Community Oriented Policing (Polisi Berorientasi Masyarakat) di Jawa Barat. Keberhasilan ini bukan hanya tentang statistik penurunan kejahatan, tetapi tentang peningkatan indeks kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Dengan kepemimpinan yang visioner, empatik, dan solutif, AKBP Bellen Anggara Pratama telah membuktikan bahwa seragam cokelat bisa menjadi simbol harapan dan perlindungan yang nyata. Polres Kuningan kini bukan sekadar kantor penegak hukum, melainkan rumah bagi keamanan dan kenyamanan bersama.
Sugi MJP
