CIREBON– Musim kemarau tahun ini membawa tantangan berat bagi warga Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon. Namun, di tengah teriknya matahari yang mengeringkan sumur dan sumber air, solidaritas dan gerak cepat pemerintah daerah menjadi oase yang menyejukkan.
Hingga pertengahan Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon mencatat telah menyalurkan total 407.000 liter air bersih ke wilayah yang terdampak krisis air sejak Juli lalu. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan harapan bagi 1.776 kepala keluarga atau sekitar 5.914 jiwa yang menggantungkan kebutuhan dasar mereka pada bantuan tangki air.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Cirebon, Arief Adhitya Firmansya, mengungkapkan bahwa distribusi air masih menjadi prioritas utama. Berdasarkan pemetaan terakhir per 13 Oktober 2026, kekeringan melanda tiga titik krusial di Argasunya: RW 06 (Kedung Krisik Selatan, khususnya RT 5 dan 6), RW 08 (Kopiluhur), dan RW 09 (Cibogo).
“Karena itu, pemenuhan kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian utama kami di Argasunya. Kami memastikan air terus mengalir ke rumah-rumah warga yang terdampak,” ujar Arief di Cirebon, Selasa (15/10/2026).
Kolaborasi Lintas Sektor
Upaya “meredam dahaga” warga Argasunya ini tidak dilakukan oleh BPBD sendirian. Semangat gotong royong terlihat dari keterlibatan berbagai instansi dan lembaga. Armada tangki air dari Perumda Air Minum, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, PMI, hingga Kodim 0614/Kota Cirebon turun ke lapangan secara bergantian.
Dukungan moril dan materil juga datang dari Korpri serta sektor swasta melalui PT Polytama Propindo. Koordinasi intensif dengan pihak kecamatan dan kelurahan dilakukan untuk memastikan setiap tetes air bantuan tepat sasaran kepada warga yang paling membutuhkan.
Menunggu Hujan di Bulan November
Meski bantuan terus mengalir, Arief mengakui bahwa distribusi air bersih hanyalah langkah penanganan darurat (kuratif). Solusi jangka panjang tetap bergantung pada alam. Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan di wilayah Cirebon diprediksi baru akan mulai turun pada November 2026.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Cirebon mengambil langkah strategis dengan memperpanjang status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Status yang semula berakhir pada 30 September 2026, kini diperpanjang hingga 30 November 2026.
“Status siaga diperpanjang agar penanganan bencana tetap berjalan tanpa terputus, mempertimbangkan perkembangan kondisi lapangan dan prakiraan cuaca,” jelas Arief.
Ia menegaskan, evaluasi kembali akan dilakukan setelah masa perpanjangan berakhir atau ketika curah hujan sudah mulai stabil membasahi tanah Cirebon. Hingga saat itu tiba, BPBD beserta mitra terkait berkomitmen penuh untuk terus mengawal logistik air bersih bagi warga Argasunya.
(Sugi MJP)
