CIREBON – Denyut nadi kebudayaan kembali terasa di Desa Klangenan, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Atmosfer sakral sekaligus gegap gempita pesta rakyat menyelimuti desa ini seiring dimulainya rangkaian Mapag Berkah Haul Buyut Nampabaya 2026
Agenda akbar yang dijadwalkan berlangsung mulai 24 September hingga 3 Oktober 2026 ini bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, event ini menjadi magnet yang menyatukan tradisi, spiritualitas, dan kepedulian sosial dalam satu harmoni yang apik.
Lebih dari Sekadar Ritual
Ketua Panitia, Moh. Isnan Husein A, menegaskan bahwa Haul Buyut Nampabaya tahun ini dikemas dengan wajah baru yang lebih inklusif. Jika sebelumnya identik dengan kegiatan ziarah, tahun ini panitia menghadirkan kolaborasi antara kegiatan keagamaan, sosial, hingga hiburan rakyat yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
“Mapag Berkah Haul Buyut Nampabaya bukan sekadar kegiatan tahunan. Ini menjadi momentum masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, berdoa bersama, sekaligus mengenang sejarah dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan leluhur,” ujar Isnan di sela-sela kesibukannya, Jumat (25/9/2026).
Rangkaian acara yang disiapkan pun sangat variatif. Masyarakat dan pengunjung dapat mengikuti jejak sejarah melalui napak tilas dan siratan makam, hingga menyelami akar sejarah desa melalui ngaji budaya yang mengangkat topik Babad Tanah Klangenan.
Tak hanya itu, sisi kemanusiaan juga menjadi sorotan utama. Sunatan massal, santunan anak yatim, dan donor darah digelar sebagai wujud syukur dan kepedulian terhadap sesama. Puncaknya, panggung spektakuler akan menghibur warga di malam hari, menjadikan Klangenan sebagai pusat keramaian yang positif.
Menjaga Warisan, Merangkul Generasi Muda
Bagi warga Klangenan, Buyut Nampabaya bukanlah nama asing. Sosok beliau memiliki posisi sentral dalam sejarah pembentukan dan perjalanan desa. Oleh karena itu, Isnan menekankan bahwa haul ini adalah ruang bagi masyarakat untuk “pulang” ke akar sejarah mereka.
“Nilai utama yang ingin kita jaga adalah rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, persaudaraan, dan gotong royong. Kami ingin nilai keagamaan dan kecintaan terhadap Desa Klangenan tertanam kuat, bukan hanya lewat seremonial, tapi lewat aksi nyata seperti bakti sosial,” tambahnya.
Tantangan terbesar dalam melestarikan tradisi masa kini adalah regenerasi. Menyadari hal tersebut, panitia tahun ini memberikan porsi khusus bagi keterlibatan generasi muda. Isnan berharap, anak muda tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.
“Kami ingin semakin banyak anak muda yang terlibat, baik dalam kepanitiaan maupun kegiatan. Mereka harus punya pengalaman dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tradisi desanya, agar estafet sejarah ini tidak terputus,” pungkas Isnan.
Dengan durasi lebih dari sepekan, Haul Buyut Nampabaya 2026 menjadi undangan terbuka bagi siapa saja—baik peziarah, budayawan, maupun wisatawan—untuk datang ke Klangenan, menyapa sejarah, dan memetik berkah bersama.
(Sugi MJP)
