
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN .– Di tengah target akademik yang semakin kompetitif, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., justru membawa pesan yang menenangkan dan memanusiakan saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP se-Kabupaten Kuningan, Senin (13/7/2026). Bagi Bupati Dian, kesuksesan pendidikan tidak dimulai dari nilai ujian, melainkan dari rasa aman dan bahagia yang dirasakan anak di hari pertama mereka menginjakkan kaki di sekolah.
“Saya berharap MPLS menjadi awal yang membahagiakan bagi seluruh peserta didik. Sekolah harus benar-benar menjadi rumah kedua yang aman, nyaman, dan mampu melahirkan generasi Kuningan yang cerdas, berkarakter, serta siap menyongsong masa depan,” ujar Bupati Dian dengan penuh ketulusan.
Pernyataan ini menegaskan visi kepemimpinannya yang holistik: pembangunan manusia di Kuningan tidak hanya diukur dari infrastruktur atau angka kelulusan, tetapi dari seberapa kuat fondasi emosional dan karakter yang dibangun sejak dini. Ia memahami bahwa kesungguhan belajar hanya bisa tumbuh subur di tanah yang subur pula—yaitu lingkungan sekolah yang ramah, inklusif, dan penuh kasih sayang.
Implementasi Nyata Visi Bupati
Visi besar Bupati Dian tersebut langsung diterjemahkan ke dalam kebijakan teknis oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Elon Carlan, S.Pd., M.M.Pd. MPLS yang dilaksanakan serentak pada 13–17 Juli 2026 ini dirancang khusus dengan pendekatan ramah anak dan ramah lingkungan. Selama lima hari, 63.686 peserta didik baru (terdiri dari 24.162 PAUD, 23.752 SD, dan 15.772 SMP) akan dikenalkan pada budaya belajar yang menyenangkan, bukan melalui tekanan atau perpeloncoan terselubung.
“MPLS adalah sarana mengenalkan lingkungan sekolah secara utuh: guru, teman sebaya, hingga cara belajar yang adaptif. Kami memastikan setiap anak merasa diterima dan dihargai sejak hari pertama,” jelas Dr. Elon.
Langkah konkret ini membuktikan bahwa kepemimpinan Bupati Dian bukan sekadar retorika di podium, melainkan arahan operasional yang mengubah wajah pendidikan Kuningan menjadi lebih humanis. Ketika seorang bupati berani menempatkan “kebahagiaan” sebagai indikator utama keberhasilan MPLS, ia sedang mengajarkan kepada seluruh stakeholder pendidikan bahwa karakter yang baik dan kesehatan mental anak adalah prasyarat mutlak sebelum berbicara tentang prestasi akademik.
Warga Kuningan patut berbangga memiliki pemimpin yang tidak hanya memikirkan gedung sekolah yang megah, tetapi juga hati dan pikiran anak-anak yang akan menghuninya. Karena pada akhirnya, generasi emas Kuningan tidak lahir dari tekanan, melainkan dari cinta dan rasa aman yang ditanamkan sejak mereka pertama kali mengenakan seragam baru.
Sugi
