Jurnal Polri.My.Id,-ulungagung
Momen suci Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dimanfaatkan sepenuhnya oleh Keluarga Besar Ranudiharjo untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan. Tradisi pertemuan rutin ini kembali digelar dengan penuh kehangatan, menjadikan hari yang penuh berkah ini sebagai ajang utama untuk berkumpul, saling sapa, dan menguatkan ikatan kekeluargaan yang telah terjalin sejak lama. Pertemuan akbar tersebut dilaksanakan di rumah besar keluarga Ranudiharjo yang beralamat di Jalan Moh. Yamin Nomor 56 A, Kabupaten Tulungagung. Lokasi yang menjadi pusat berkumpulnya seluruh anggota keluarga ini tampak hidup dan dipenuhi suasana gembira sejak pagi hari, seiring dengan kedatangan para kerabat yang berdatangan dari berbagai daerah, baik yang berada di sekitar Kabupaten Tulungagung maupun dari luar kota.
Suasana kebersamaan begitu terasa menyelimuti seluruh ruangan dan halaman rumah besar tersebut. Senyum dan salam terukir jelas di wajah setiap orang yang hadir, seolah menghapus jarak dan kesibukan yang selama ini memisahkan mereka. Momen ini menjadi waktu yang sangat dinanti-nantikan, karena menjadi satu-satunya kesempatan di mana hampir seluruh anggota keluarga dari berbagai cabang dan generasi bisa berkumpul dalam satu tempat yang sama. Acara dihadiri oleh seluruh elemen Keluarga Besar Ranudiharjo, mulai dari para sesepuh yang dihormati, generasi tua, hingga para pemuda dan anak-anak yang merupakan penerus tonggak sejarah keluarga. Kehadiran lintas generasi ini menjadikan pertemuan tersebut semakin berharga, bukan hanya sekadar ajang temu kangen, tetapi juga wadah untuk melestarikan nilai-nilai luhur dan tradisi yang dipegang teguh oleh keluarga Ranudiharjo.

Pada kesempatan yang berbahagia tersebut,mantan anggota DPRD Kabupaten Tulingagung dari Partai PDI Perjuangan Subiyanto, S.H., yang akrab disapa Mas Anto selaku salah satu cucu tertua dari almarhum Ranudiharjo, memberikan sambutan yang penuh makna sekaligus memaparkan silsilah dan perkembangan besar keluarga ini dari masa ke masa. Dalam penjelasannya, Mas Anto menguraikan sejarah awal terbentuknya keluarga besar ini. “Mbah Ranudiharjo dikaruniai 10 orang anak. Namun, anak ke-9 meninggal dunia saat masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, sehingga yang bertahan dan melanjutkan keturunan ada 9 orang anak,” ungkap Mas Anto di hadapan seluruh kerabat yang hadir.
Dari kesembilan anak yang kemudian melangsungkan pernikahan dan dikaruniai keturunan, pohon keluarga Ranudiharjo semakin tumbuh lebar. Dari generasi kedua tersebut, lahirlah generasi ketiga yang berjumlah 41 orang, dan ke-41 orang inilah yang merupakan para cucu dari Mbah Ranudiharjo. “Saya sendiri merupakan cucu tertua, dan saat ini usia saya sudah menginjak 69 tahun. Sedangkan cucu yang paling muda adalah Mas Wyma, yang berusia 37 tahun persis pada hari ini,” jelas Mas Anto yang disambut antusias oleh para hadirin.
Perkembangan keluarga tidak berhenti di situ. Dari ke-41 orang cucu tersebut, lahirlah generasi keempat atau para buyut yang jumlahnya mencapai 78 orang. Dari jumlah 78 orang buyut itu, sebagian sudah ada yang berumah tangga dan dikaruniai anak. Dari pernikahan generasi ini, lahirlah 20 anak. Jika dihitung lebih luas hingga ke generasi kelima, jumlah anggota keluarga yang lahir dari silsilah tersebut mencapai 30 orang. Dalam sebutan adat Jawa, generasi kelima ini dikenal dengan sebutan Canggah.
Masih menurut penuturan Mas Anto, jika perhitungan dilakukan secara menyeluruh dengan turut mengikutsertakan para pasangan atau menantu dari setiap generasi, jumlah anggota Keluarga Besar Ranudiharjo menjadi sangat besar. “Kalau dihitung keseluruhan, termasuk anak menantu, cucu menantu, hingga buyut menantu, jumlah kita semua yang terikat dalam keluarga ini mencapai 225 orang,” paparnya dengan nada bangga. Angka yang fantastis ini merupakan buah dari perjalanan panjang dan kebersamaan selama 90 tahun, dihitung sejak pernikahan dua tokoh pendiri keluarga ini, yakni Mbah Ranudiharjo dan Mbah Masriki.
Dalam kesempatan tersebut, para sesepuh juga menyampaikan pesan-pesan penting mengenai makna Idul Adha, yaitu pengorbanan, kepatuhan, dan rasa syukur. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setiap anggota keluarga yang berjumlah ratusan orang ini. Selain itu, juga ditekankan pentingnya menjaga kerukunan, saling membantu, dan tetap bersatu dalam keadaan apa pun, sebagaimana semangat yang selalu dijunjung tinggi oleh leluhur mereka. Rangkaian kegiatan pun diisi dengan doa bersama, ramah tamah, serta penyajian hidangan istimewa khas perayaan Idul Adha, di mana daging kurban disantap bersama-sama menambah kehangatan suasana.
Menjelang berakhirnya acara, seluruh keluarga berharap tradisi mulia ini dapat terus berlanjut dan tetap lestari di tahun-tahun mendatang. Pertemuan di Hari Raya Idul Adha ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, melainkan bukti nyata bahwa dari satu pernikahan tumbuhlah pohon keluarga yang rimbun berisi ratusan orang. Keberadaan 225 anggota keluarga ini menjadi bukti bahwa ikatan darah dan persaudaraan Keluarga Besar Ranudiharjo akan selalu kokoh, erat, dan terus tumbuh dalam kasih sayang serta kebersamaan yang abadi.
Pewarta : by.U
