
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN. – Pembangunan di Kabupaten Kuningan tidak lagi bersifat top-down atau instruksi dari atas ke bawah. Kini, roda pembangunan digerakkan oleh kolaborasi solid antara Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, serta Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Sinergi inilah yang menjadi tulang punggung terwujudnya visi “Kuningan Melesat”.
Bupati Kuningan menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata melalui berbagai program lintas sektor yang inklusif dan berdampak langsung. Bukti keberhasilannya terlihat dari deretan prestasi dan inovasi yang lahir dari tangan-tangan kreatif warga desa.
Inovasi yang Menginspirasi: Dari Inklusi Sosial hingga Prestasi Nasional
Salah satu sorotan utama adalah program Batik Ciprat, sebuah terobosan sosial yang melibatkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan penyandang disabilitas. Program ini tidak hanya memberikan keterampilan ekonomi, tetapi juga mengembalikan martabat dan kepercayaan diri kelompok rentan tersebut sebagai bagian produktif dari masyarakat.
Tidak kalah membanggakan, Desa Kertayasa berhasil meraih Juara II Tingkat Nasional dalam kategori pengelolaan sampah. Prestasi ini membuktikan bahwa kesadaran lingkungan warga Kuningan mampu bersaing di kancah nasional, mengubah masalah sampah menjadi peluang ekonomi dan estetika desa.
Deretan program unggulan lainnya juga terus bergulir deras:
- BERSEPEDA & GEMA SADULUR: Membangun kesehatan fisik dan kerukunan sosial antarwarga.
- Rumah Sayur & Jawara Tani: Mendorong ketahanan pangan lokal dan kemandirian petani.
- GPM Padaringan & Pasukan PAUS: Memperkuat peran pemuda dan relawan dalam tanggap bencana serta pelayanan publik.
- Dukungan UMKM: Memberikan akses permodalan dan pemasaran bagi usaha mikro agar bisa naik kelas.
Komitmen Pemkab: Memperkuat Kelembagaan Desa
Pemerintah Kabupaten Kuningan memastikan bahwa kolaborasi dengan LPM dan berbagai kelembagaan masyarakat akan terus diperkuat. Pemerintah hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai fasilitator yang menyediakan ruang, anggaran, dan regulasi pendukung agar kreativitas warga dapat berkembang maksimal.
“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen kami mewujudkan pembangunan yang benar-benar melibatkan masyarakat. Ketika warga merasa memiliki proses pembangunan, maka hasilnya akan lebih berkelanjutan dan bermakna,” ujar perwakilan Pemkab Kuningan.
Dengan semangat gotong royong yang terjaga, Kuningan tidak hanya mengejar pertumbuhan infrastruktur, tetapi juga pertumbuhan manusianya. Setiap program, dari batik hingga pengelolaan sampah, adalah bukti bahwa “Kuningan Melesat” adalah gerakan bersama, bukan mimpi sepihak.
(Sugi MJP)
