KUNINGAN – Di sudut Kecamatan Kadugede, terdapat sebuah kawasan yang seolah menghentikan waktu. Bukan sekadar tempat jual beli, Pasar Renteng adalah living museum di mana dentuman gong berusia 500 tahun berpadu dengan riuh rendah transaksi menggunakan koin kayu.
Minggu ini, Pasar Renteng menjadi sorotan. Bupati Kuningan hadir di tengah masyarakat Blok Cibogo, membawa pesan penting tentang keseimbangan antara merawat masa lalu dan menyongsong masa depan pariwisata.
Menjaga Pusaka, Bukan Sekadar Pajangan
Dalam kunjungannya, Bupati memberikan atensi khusus pada *Goong Renteng, benda pusaka yang telah menjadi saksi bisu sejarah selama lima abad. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya harus dilakukan dengan strategi yang cerdas.
“Goong Renteng asli harus mendapatkan perlindungan dan perawatan memadai sebagai benda pusaka. Namun, agar semangat budayanya tetap hidup, pemerintah daerah akan mendorong penggunaan replika untuk kebutuhan pertunjukan rutin,” ujar Bupati.
Strategi ini dinilai win-win solution: aktivitas seni tetap berjalan menghibur pengunjung, sementara “nyawa” dari benda sejarah tetap terjaga keasliannya.
Pesan “Someah” dan Kebersihan,
Lebih dari sekadar infrastruktur, Bupati menyoroti “jiwa” dari pariwisata Kuningan, yaitu manusianya. Ia mengingatkan bahwa daya tarik utama wisatawan bukanlah kemewahan, melainkan kehangatan sambutan warga.
“Kalau kita mau menjadi daerah yang dikunjungi masyarakat dari luar, orangnya harus someah,(ramah), dan terbuka,” pesannya.
Tak kalah penting, Bupati juga menyinggung soal kebersihan sebagai standar utama kenyamanan. “Wisatawan salah satu alat ukurnya adalah kebersihan. Tidak harus mewah, yang penting bersih, rapi, dan tidak ada sampah,” tegasnya, sembari menginstruksikan ketersediaan fasilitas penunjang yang memadai.
Harapan yang Tertunda 48 Tahun
Kehadiran orang nomor satu di Kuningan ini menyisakan kesan mendalam bagi Sajum Baron, Direktur Pasar Renteng. Baginya, ini bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan sebuah pengakuan atas perjuangan masyarakat Cibogo.
“Bapak Bupati, alhamdulillah bisa hadir. Ini merupakan kebahagiaan bagi kami. Karena sejauh ini, sejak saya berusia 48 tahun, Cibogo baru kali ini dikunjungi oleh Bupati Kabupaten Kuningan,” ungkap Sajum dengan nada haru.
Sajum menjelaskan bahwa Pasar Renteng lahir dari rahim gotong royong. Nama “Renteng” sendiri diambil untuk menghidupkan ingatan generasi muda terhadap Goong Renteng, di tengah gempuran zaman yang mulai menggerus minat pada kesenian tradisional.
Dari Koin Kayu hingga Jejak Konferensi Asia Afrika
Keunikan Pasar Renteng terletak pada detail autentiknya. Pengunjung tidak menggunakan uang Rupiah, melainkan koin kayu khas, menciptakan sensasi “time travel” yang memikat.
Namun, di balik nuansa tradisionalnya, tersimpan potensi ekonomi kreatif yang mendunia. Sajum mengungkapkan bahwa kerajinan janur dan anyaman bambu Cibogo memiliki kualitas istimewa.
“Orang-orang kreatifnya ada di sini. Janur Cibogo bahkan pernah digunakan dalam kegiatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Mudah-mudahan bisa disalurkan lebih luas dan mendunia,” harapnya.
Sinergi Masa Depan
Kunjungan ini menjadi titik tolak sinergi baru. Dengan menggelar pasar setiap minggu pertama setiap bulan, Pasar Renteng tidak hanya menawarkan kuliner dan kerajinan, tetapi juga paket lengkap pengalaman budaya: mendengar tabuhan Goong Renteng menyambut tamu, bertransaksi dengan koin kayu, dan merasakan keramahan warga Cibogo.
Pasar Renteng kini bukan lagi sekadar pasar desa, melainkan etalase kekayaan budaya Kuningan yang siap menyambut dunia dengan senyum someah.
Sugi MJP
