
JURNAL POLRI.MY.ID.CIREBON. 11 September 2026 – Praktik hubungan industrial yang sehat antara media dan korporasi kembali dipertanyakan. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada CV Aditya Tirta Mandiri. Perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan air ini diduga kuat menunjukkan sikap apatis hingga arogan terhadap upaya silaturahmi yang dilakukan oleh sejumlah jurnalis lokal.
Bukan sekali, melainkan hingga tiga kali kesempatan, rombongan jurnalis yang berniat menjalin kemitraan profesional dan menyampaikan surat pemberitahuan resmi (surat tebusan) ditolak mentah-mentah. Yang lebih memprihatinkan, penolakan tersebut dilakukan tanpa basa-basi, tanpa alasan jelas, dan tanpa adanya konfirmasi dari jajaran manajemen puncak maupun departemen Sumber Daya Manusia (HRD).
Pintu Tertutup Rapat
Upaya dialogis ini sejatinya merupakan bagian dari etika jurnalisme untuk membangun transparansi dan kemitraan yang saling menguntungkan. Namun, respons yang diterima para wartawan justru bertolak belakang dengan prinsip keterbukaan informasi publik.
“Sudah tiga kali kami datang dengan niat baik untuk bersilaturahmi dan menyerahkan dokumen resmi. Tidak ada pertemuan, tidak ada klarifikasi, bahkan tidak ada perwakilan Direktur atau HRD yang mau menemui kami,” ungkap salah satu anggota rombongan jurnalis yang meminta namanya tidak dipublikasikan karena alasan keamanan profesi. “Kami merasa dihina dan disepelekan sebagai mitra kontrol sosial.”
Para jurnalis melaporkan bahwa setiap kali mereka tiba di lokasi kantor CV Aditya Tirta Mandiri, mereka langsung dihadang oleh staf keamanan atau resepsionis dengan instruksi tegas untuk pulang. Tidak ada negosiasi, tidak ada janji waktu lain, dan yang paling mencoreng citra profesionalisme perusahaan adalah ketiadaan komunikasi balik dari pihak manajemen.
Mengabaikan Peran Kontrol Sosial?
Sikap dingin CV Aditya Tirta Mandiri ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan komunitas pers Cirebon. Dalam ekosistem demokrasi, pers berperan sebagai jembatan informasi antara perusahaan dan masyarakat. Menolak bertemu jurnalis tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan sering kali diinterpretasikan sebagai upaya menyembunyikan sesuatu atau bentuk ketidakdewasaan dalam berbisnis.
“Jika sebuah perusahaan merasa tidak memiliki masalah, mengapa takut bertemu pers? Penolakan tanpa basa-basi ini mencerminkan arogansi kekuasaan dan pengabaian terhadap hak publik untuk mendapatkan informasi,” tutur seorang pengamat media lokal.
Hingga berita ini diturunkan, CV Aditya Tirta Mandiri belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan pengabaian tersebut. Baik melalui saluran telepon resmi maupun kunjungan langsung, tembok pembatas antara perusahaan dan pers tampaknya masih berdiri kokoh.
Komunitas jurnalis Cirebon berharap kejadian ini menjadi evaluasi bagi CV Aditya Tirta Mandiri untuk membuka diri. Sikap menutup diri justru berpotensi memicu spekulasi negatif di masyarakat dan merusak reputasi perusahaan itu sendiri dalam jangka panjang.
Sugi MJP

