
JURNAK POLRI.MY.UD.KUNINGAN. – Di balik ketegapan postur dan keseragaman seragam Paskibraka, tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tugas mengibarkan bendera. Mereka bukan hanya sekumpulan remaja berbaris rapi; mereka adalah wajah Kabupaten Kuningan, representasi masyarakat, dan garda depan penghormatan bagi para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia.
Hal ini ditekankan dalam sebuah pertemuan pembinaan Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaskibraka) yang berlangsung baru-baru ini. Suasana khidmat menyelimuti ruangan saat para calon anggota pasukan elite ini mendengarkan arahan penting mengenai esensi menjadi seorang Paskibraka.
Di penghujung sesi, Amih Tuti menyampaikan pesan yang sederhana namun menohok hati. Ia mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan lima sila di kepala, melainkan harus meresap menjadi jiwa dan pedoman nyata dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari.
“Pancasila jangan hanya dihafalkan, tetapi hidupkan dalam tindakan,” ujar Amih Tuti.
Selain penanaman nilai ideologi, aspek teknis dan fisik juga menjadi perhatian utama. Amih Tuti secara khusus meminta para Capaskibraka untuk menjaga kekompakan tim, kedisiplinan tinggi, serta kondisi kesehatan prima selama menjalani rangkaian pendidikan yang intensif. Baginya, kekuatan individu tidak akan berarti tanpa adanya solidaritas kelompok yang solid.
Namun, poin paling menyentuh datang ketika ia mendefinisikan ulang peran seorang Paskibraka di mata masyarakat.
“Jadilah duta kebangsaan yang tidak hanya gagah di lapangan upacara, tetapi juga berkarakter kuat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan,” pesan Amih Tuti dengan tegas.
Pesan tersebut menjadi pengingat keras bahwa menjadi Paskibraka bukanlah tentang kejayaan sesaat pada satu hari ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan di hadapan ribuan orang. Ini adalah proses panjang pembentukan karakter yang dimulai hari ini. Ini tentang semangat kebangsaan yang harus dijaga sepanjang hayat, dan keteladanan yang diharapkan terus tumbuh dan menginspirasi setelah mereka melepas seragam kebesaran itu dan kembali berbaur di tengah masyarakat.
Bagi Kabupaten Kuningan, harapan terbesar bukan hanya pada sempurna tidaknya gerakan baris-berbaris, tetapi pada lahirnya generasi muda yang berintegritas, disiplin, dan mencintai tanah air melalui perbuatan nyata.
(Sugi MJP)
