KUNINGAN – Peluang besar terbuka lebar bagi para petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Kuningan. Rumah Sayur, melalui CEO Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, mengumumkan kesiapan menyerap hasil panen lokal dengan target awal mencapai 15 hingga 20 ton per hari. Langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekosistem agribisnis daerah yang terintegrasi dengan pasar nasional.
Bahtiar menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa gudang penyimpanan berkapasitas besar di kawasan Ciloa. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai hub distribusi utama, mengumpulkan hasil panen berkualitas dari petani Kuningan sebelum dikirim ke berbagai wilayah konsumsi.
“Kami membuka pintu seluas-luasnya. Semua petani dan KWT di Kuningan bisa menjadi mitra pemasok kami. Gudang di Ciloa siap menampung hasil panen mereka,” ujar Bahtiar.
Jaminan Pasar Nasional
Daya tarik utama skema kemitraan ini adalah jaminan pasar yang jelas. Rumah Sayur saat ini telah menjadi supplier resmi bagi sejumlah raksasa industri pangan nasional, termasuk jaringan restoran Mie Gacoan, Indofood, dan Sasa. Dengan rencana ekspansi pembukaan 100 titik outlet Rumah Sayur di Jakarta bulan depan, permintaan terhadap komoditas pertanian Kuningan diprediksi akan melonjak signifikan.
“Peluang pasarnya sangat terbuka lebar. Selama petani mampu memenuhi standar kualitas dan harga yang kompetitif, produk Kuningan akan langsung terserap ke rantai pasok nasional,” tegasnya.
Pendampingan, Bukan Sekadar Transaksi
Lebih dari sekadar hubungan jual-beli, Bahtiar menekankan komitmen perusahaan untuk melakukan pendampingan teknis kepada para petani. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga konsistensi kualitas agar sesuai dengan standar industri modern.
“Kami tidak hanya membeli, tetapi juga mendampingi agar produktivitas petani terus naik. Harapan kami, Rumah Sayur menjadi ‘rumah bersama’ bagi petani Kuningan, sekaligus berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Langkah strategis ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal, mengurangi ketergantungan pada tengkulak, serta menempatkan Kabupaten Kuningan sebagai salah satu lumbung pangan premium untuk pasar metropolitan.
(Sugi MJP)
