
JURNAL POLRI.MY.ID.KUNINGAN.– Udara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-528 Kabupaten Kuningan terasa berbeda tahun ini. Bukan sekadar seremonial protokoler, perayaan ini berhasil menangkap esensi sesungguhnya dari sebuah pesta rakyat: kebahagiaan yang tulus terpancar dari wajah-wajah warga.
“Saya senang hari ini masyarakat bisa tersenyum bahagia di Hari Ulang Tahun Kuningan, Hari Ulang Tahun kita bersama,” ujar Dian, dalam sambutannya yang disambut hangat oleh ribuan hadirin.
Bagi Dian, momen ini bukan akhir dari sebuah acara, melainkan awal dari penguatan ikatan emosional antara pemerintah dan rakyat. Ia berharap euforia perayaan ini dapat diterjemahkan menjadi energi kolektif untuk membangun daerah.
“Sekali lagi terima kasih. Mudah-mudahan dengan perayaan ini kita semakin memperkuat tali silaturahmi, guyub, dan kompak. Bersama-sama kita membangun Kuningan ke depan,” tegasnya.

Jejak Sejarah dalam Karnaval Budaya
Antusiasme masyarakat terlihat jelas di lapangan. Oom (60), warga Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, misalnya. Ia rela datang jauh-jauh bersama cucunya hanya untuk menyaksikan helaran budaya. Bagi generasi seperti Oom, tradisi Seba Sapton dan Babarit bukan sekadar tontonan, melainkan warisan leluhur yang wajib dijaga.
“Setiap tahun saya selalu menyaksikan. Tapi tahun ini terasa berbeda, lebih seru dan meriah. Saya sengaja datang bersama cucu agar mereka juga melihat langsung kekayaan budaya kita,” tuturnya dengan mata berbinar.
Keseruan tersebut akan terus berlanjut melalui rangkaian agenda puncak yang dirancang untuk menghibur sekaligus mengedukasi. Puncak perayaannya akan ditandai dengan Karnaval Budaya pada 13 September 2026 mendatang. Dengan tema “Kuningan dari Masa ke Masa”, karnaval tahun ini menawarkan pengalaman visual yang lebih megah.
Rute karnaval diperpanjang, dimulai dari Bunderan Cijoho dan berakhir di depan Taman Kota Kuningan. Peserta karnaval akan membawa penonton menyusuri lorong waktu, menampilkan atraksi yang merekonstruksi sejarah panjang Kuningan—mulai dari kejayaan Kerajaan Saunggalah, era Kesultanan Cirebon, hingga dinamika Kuningan modern saat ini.

Sebelum karnaval besar tersebut, semangat sportivitas akan digelorakan terlebih dahulu melalui acara Melesat Run pada Minggu (6/9/2026).
Pemerintah Hadir di Tengah Rakyat: Saba Lembur
Tidak berhenti pada perayaan simbolis, Pemerintah Daerah Kuningan juga membuktikan komitmennya untuk turun langsung ke akar rumput melalui program Bupati Saba Lembur. Agenda ini dijadwalkan berlangsung pada 8 September di Subang dan 10 September di Mandirancan.
Konsep Saba Desa ini dirancang sebagai bentuk pelayanan prima yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Rangkaian kegiatannya sangat komprehensif, meliputi:
- Penampilan seni budaya lokal.
- Bakti sosial dan pengobatan gratis.
- Pelayanan administrasi pemerintahan on-the-spot.
- Program bedah rumah bagi warga kurang mampu.
- Layanan kesehatan terpadu.
Melalui kombinasi antara pelestarian budaya yang meriah dan pelayanan publik yang nyata, HUT ke-528 Kuningan tahun ini menegaskan pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang merawat hati warganya dan melestarikan identitas sejarahnya.
(Sugi MJP)

